This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Dakwah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2011

HADIST SHOHIH MENYATAKAN DITERIMANYA BACAAN AL QUR’AN UNTUK ARWAH YANG SUDAH MENINGGAL

وأخرج سعد الزنجاني عن ابي هريرة مرفوعا: من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب, وقل هو الله أحد, وألهاكم التكاثر, ثم قال: إني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات, كانوا شفعاء له ألى الله تعالى. وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسند عن أنس مرفوعا: من دخل المقابر, فقرأ سورة يس, خفف الله عنه وكان له بعدد من فيها حسنات. …(ذكره محمد بن عبد الوهاب ” مؤسسة الفرقة الوهابية ” في كتابه أحكام تمني الموت,) “Sa’ad al-Zanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh ra secara marfu’: “Barang siapa mendatangi kuburan lalu membaca surah al-Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan al-Hakumuttakatsur, kemudian mengatakan: “Ya Allah, aku hadiahkan pahala bacaan al-Qur’an ini bagi kaum beriman laki-laki dan perempuan di kuburan ini”, maka mereka akan menjadi penolongnya kepada Allah”. Abdul Aziz – murid dari al-Imam al-Khollal -, meriwayatkan hadist dari sanadnya dari Anas bin Malik ra secara marfu’: Barangsiapa mendatangi kuburan, lalu membaca Surat Yasin, maka Allah akan meringankan siksa mereka, dan ia akan memperoleh pahala sebanyak orang-orang yang ada di kuburan itu.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahkam tamanni al-Maut, hal. 75)

Dunia Gelap Gulita Akherat Terang Benderang

Seorang Kiayi berceramah di depan manusia yang sangat ramai…Beliau mengatakan bahwa dunia ini gelap gulita dan akherat itu terang benderang. Setuju kah kita dengan isi ceramah kiayi tadi. Wong jelas-jelas dunia ini terang ada sinar matahari kalau siang hanya malam saja yang gelap itupun di daerah yang belum masuk PLN. Sedangkan akherat kita belum tahu dan tidak ada orang yang mati hidup kembali menceritakan keadaan akherat kepada manusia.
Kemudian kiayi tadi bertanya kepada para hadirin… “Setujukah kalian dengan apa yang aku katakan…?”, para hadirin menjawab serentak “Setuju”. Maklumlah karena mereka takut jika tidak setuju maka akan dianggap membangkang pak kiayi. “Bagi yang setuju sudah boleh pulang”,kata pak kiayi tadi. Para hadirinpun pulang dan tinggallah 3 orang pemuda yang penasaran dengan isi ceramah sang kiayi tadi. Mereka tetap berada di tempat dan ingin bertanya lebih lanjut kepada pak kiayi. Pak kiayi tersenyum dan mengajak ketiga pemuda tadi pergi ke sebuah gua yang di dalamnya sangat gelap sekali. Pak kiayi memberikan mereka masing-masing sebuah karung dan kemudian berkata,”masuklah kalian ke dalam gua itu kumpulkanlah sebanyak-banyaknya kerikil yang ada di dalam gua itu.Setelah saya perintahkan keluar maka keluarlah kalian dari gua itu” Ketiga pemuda itupun tambah keheranan tapi tetap menuruti masuk ke dalam gua tadi.
Sesampainya di dalam gua yang gelap itu maka pemuda pertama berfikir “ah untuk apa kerikil gak ada gunanya” dan pemuda pertama ini tidak mengambil kerikil itu. Pemuda kedua mengambil kerikil tapi sedikit, sedangkan pemuda ketiga menuruti perintah kiayi dan mengumpulkan kerikil sebanyak-banyaknya tetapi karungany belum penuh.
Kemudian dari luar gua terdengar suara sang kiayi menyuruh mereka keluar dari gua. Dengan cepat ketiga pemuda tadipun keluar dari gua.Sang kiayi pun memerintahkan untuk mengeluarkan isi karung mereka. Setelah dikeluarkan isi karung masing-masing, barulah mereka sangat terkejut karena isinya adalah batu intan dan permata. Pemuda pertama sangat menyesal karena tidak membawa apa-apa dan karungnya kosong, sedangkan pemuda kedua juga menyesal karena hanya membawa sedikit. Pemuda ketiga juga agak menyesal karena kenapa tadi tidak dipenuhi saja karungnya dengan batu tadi.
Kemudian pak kiayi menjelaskan begitulah gambaran dunia ini seperti gua yang gelap tadi, kita diperintahkan untuk mengumpulkan sesuatu yang kita tidak tahu nilainya yaitu amal sholeh. Setelah kita sampai di akherat nanti baru kita tahu nilai dan pentingnya amal sholeh itu…. Dan kita tetap akan menyesal karena kita tidak bersungguh-sungguh mengumpulkannya.
NB:
Supaya tahu nilai amal maka istiqomahlah dalam mengikuti taklim fadhilah amal di Masjid dan di rumah bersama keluarga. Agar selalu semangat dalam beramal sholeh.

Rabu, 17 Agustus 2011

MANFAAT MELATIH KESABARAN

Latihan untuk membina diri kita sesungguhnya adalah latihan dalam keseharian.
Membina diri bukan sesuatu yg dimengerti bahwa; harus dilatih di tempat ibadah
atau pada saat tertentu.
Justu dalam keseharian, kita dapat meningkatkan pembinaan terhadap diri kita masing2.

Salah satu pesan yg sangt penting yg pernah diungkapkan dihadapan 1250 orang Bhikkhu
yg telah mencapai tingkat kesucian, adalah kesabaran.

Sesungguhnya kesabaran adalah latihan untuk membina diri yg paling tinggi.

Kalau kita berhadapan atau mengalami keadaan yg menyenangkan disekitar kita,
Seperti melihat orang lain berbuat baik, berkata ramah, tidak membenci,
saling menyayangi, maka kita dapat bersikap sabar.

Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, menghadapi keadaan yg menyenangkan
bukan sikap sabar, justru kesabaran adalah sikap yg tenang dengan dilandasi
sikap yg benar. Pada saat menghadapi kondisi yg tidak menyenangkan,
seperti melihat orang lain berbuat jahat kepada kita, mencela, menghina, memfitnah,
atau melakukan perbuatan buruk apa saja kepada kita, sesungguhnya itu merupakan
sikap yg baik dalam melatih kesabaran, untuk melatih kesabaran kalu menghadapi
kondisi yg tidak menyenangkan.
Kalau ada masalah timbul, biasanya muncul kemarahan, dendam, kebencian, saat itulah
betapa rapuhnya batin kita menghadapi keadaan yg tidak menyenangkan,
menghadapi orang yg menyulitkan kita.
Kalau timbul emosi sikap yg didorong oleh kemarahan, sesungguhnya sikap seperti itu
sangat merugikan diri sendiri.
Tampak dengan jelas tidak ada ketahanan mental dalam diri kita untuk menghadapi
keadaan tidak menyenangkan.

Ada 2 macam kesabaran:

1. Yang pertama, kesabaran yg paling rendah
Bersabar dengan hal yg sederhana, dengan kondisi yg kecil seperti :
menghadapi udara yg panas, makanan yg tidak sesuai, menunggu agak lama,
bersabar bila fisik sedang sakit dan bersabar ketika sedang mengemudikan mobil
dijalan. Dalam menghadapi kondisi yg tidak menyenangkan itu, akan memungkinkan
kita untuk melatih kesabaran yg lebih tinggi.

2. Yang kedua, kesabaran yg lebih tinggi
Apakah kesabaran yg lebih tinggi itu? yaitu bersabar terhadap masalah yg lebih
besar. Dalam Dhammapada (1:4) Sang Buddha bersabda:
"Mereka yg tidak memendam di dalam dirinya (dan tidak berpikir) : "Ia telah
menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan
merampas barang-barangku", maka kebencian akan lenyap dari batinnya.
Inilah kesabaran yg paling tinggi, Jadi ketika kita disiksa, dipukul,
Dihina, dicela, dimarahi namun kita tetap sabar dan tidak membalasnya.
Mengapa demikian? Karena kita tahu bahwa; kemarahan dan kebencian apabila
muncul dalam batin kita tentu akan merugikan kita sendiri dan orang lain.

Kesabaran yg lebih tinggi ini amat sulit. Justru itulah merupakan latihan kesabaran
yg tertinggi. Merupakan guru kesabaran kita, kalau ada orang yg mengganggu kita,
menghancurkan dan menjelekkan kita. Kalau kita menghadapi dengan emosi yg meluap,
sikap itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi akan membuat masalah, kebencian,
dendam, dan sakit hati bukan menunjukkan keperkasaan, tetapi sebaliknya,
menunjukkan kelemahan mental.

Bagi orang yg melatih kesabaran akan memperoleh 5 (lima) manfaat :

1. Ia akan disenangi oleh orang lain
2. Ia akan terhindar dari bahaya
3. Ia akan terhindar dari kesalahan
4. Pada saat ia mau meninggal dunia, ia memiliki pikiran yg tenang.
5. Setelah meninggal dunia ia akan terlahir di alam bahagia.

Sekarang bagaimana melatih kesabaran itu?
Ada 2 macam cara melatih kesabaran, yaitu :
1. Yang pertama, menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta itu tidak kekal,
tidak abadi, berubah setiap saat. Kesulitan apapun yg kita hadapi tidaklah kekal dan
tidak selamanya akan mencengkram kita.
Masalah yg menyulitkan kita datang sebentar kemudian akan berlalu.
Menyadari perubahan terhadap sesuatu masalah membuat kita bertahan.
Jadi, tidak ada alasan untuk patah semangat.
2. Yang kedua adalah : kesulitan yg kita alami janganlah kita hadapi dengan berpikir biasa.
Apakah berpikir biasa itu? Kita selau berpikir; ia telah menyiksa diriku, ia telah
memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku, dan telah merampas barang2 ku dan tidak simpatik
kepadaku.Inilah berpikir biasa.
Timbul ingin membalas kepada mereka, sehingga hidup tidak tentram.
Berpikirlah secara Dhamma,bahwa kesulitan yg terjadi adalah akhibat dari perbuatan kita sendiri.
Kesulitan dan segala macam kesalahan bukan dibuat oleh para dewa atau mahluk lain, tetapi oleh
akibat dari perbuatan diri sendiri. Kalau tidak dari kita, tidak mungkin masalah menimpa kita.
Kalau kita berpikir seperti itu, tidak ada tempat untuk membalas dendam. Justru melihat
orang lain berperilaku buruk kepada kita, malah kasihan, karena akan menghasilkan penderitaan.

Dengan dua landasan pengertian inilah kita membangun kesabaran kita, memperkuat daya tahan mental kita
dalam menghadapi kesulitan yg mengganggu kita.
Dengan cara inilah kita melatih kesabaran.
Kita berusaha tenang, batin tidak tergoyahkan meskipun masalah yg datang silih berganti.
Kita harus pandai menggunakan kesempatan dalam keseharian,
Meningkatkan kesabaran kita.
Kesabaran sangat dibutuhkan dimanapun kita tinggal. Seesorang yg tidak cukup memiliki ketahanan mental,
ia akan mudah terpengaruh melakukan perbuatan buruk.
Menurut mereka hal itu akan menghasilkan materi.
Namun orang yg memiliki ketahanan mental, tidak akan tertarik dengan perilaku buruk, ia bisa bertahan,
ia dapat mengalihkan dirinya dari perbuatan buruk.
Karena punya ketahanan mental, tidak tergiur dengan perbuatan buruk walaupun dapat keuntungan besar.
Oleh karena itulah kesabaran merupakan kunci keberhasilan melakukan perbuata baik.
Kejahatan akan merugikan mahluk lain dan juga si pembuatnya sendiri.
Demikian juga perbuatan baik akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Memang perbuatan yg tidak terpuji, mudah sekali menggiurkan kita, menarik banyak orang
karena memberikan manfaat yg tiba2, tidak perlu sabar. Kemudian orang banyak melakukan perbuatan buruk.

Marilah kita melatih kesabaran. Dengan melatih kesabaran kita akan selalu memilih perbuatan baik.
Dengan melatih kesabaran sekuat tenaga, kita menghindari perbuatan buruk dan perbuatan yg tidak sehat.
Dengan keuletan dan sekuat tenaga, kita melakukan perbuatan yg yg baik bagi masyarakat, keluarga dan
diri sendiri.

Marilah kita menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas batin kita, meningkatkan
kesabaran dan daya tahan mental. Marilah kita mengisi dengan hal2 yg berguna dan selalu
berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk serta bersihkan kekotoran batin yg ada pada
batin kita. Dengan demikian kita akan menemukan kebahagiaan dalam kondisi apapun yg datang
menyongsong kita dengan ketahanan mental. Hiduplah dengan penuh kesabaran, sehingga hidup kita
akan selalu aman, damai dan bahagia.

Keutamaan Dakwah Ilallah

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu’anhu, suatu ketika dalam peperangan Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku akan memberikan bendera ini kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Sahl berkata: Maka di malam harinya orang-orang pun membicarakan siapakah kira-kira di antara mereka yang akan diberikan bendera itu. Sahl berkata: Ketika pagi harinya, orang-orang hadir dalam majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari mereka sangat mengharapkan untuk menjadi orang yang diberikan bendera itu. Kemudian, Nabi bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, dia sedang menderita sakit di kedua matanya.” Sahl berkata: Mereka pun diperintahkan untuk menjemputnya. Kemudian, dia pun didatangkan lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi kedua matanya dan mendoakan kesembuhan baginya maka sembuhlah ia. Sampai-sampai seolah-olah tidak menderita sakit sama sekali sebelumnya. Maka beliau pun memberikan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita?”. Beliau menjawab, “Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang perawi hadits :

Sahl bin Sa’ad bin Malik bin Khalid Al Anshari Al Khadzraji As Sa’idi Abul ‘Abbas, beliau dan ayah beliau merupakan shahabat yang masyhur, banyak dikenal. Meninggal pada tahun 88 H, ada yang mengatakan setelah tahun tersebut, ada pula yang mengatakan pada tahun 100 H.

Penjelasan Hadits :

1. Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yaitu bahwasanya Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikannya sebagai seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ahlus sunnah meyakini keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, juga para ahlul bait yang beriman dan beramal shalih, begitu pula dengan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dan istri-istri beliau, tanpa bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap mereka (juga tanpa bersikap meremehkan kedudukan mereka –pent).

2. Hadits tersebut mengandung dua pertanda nubuwwah bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu :

Pertama, kejadian yang menimpa ‘Ali bin Abi Thalib pada hari tersebut, yaitu sakitnya kedua mata beliau. Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meludahi kedua matanya dan, dengan izin Allah, penyakit tersebut hilang seketika.

Kedua, berita dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Allah akan memenangkan mereka dengan kedua tangan-Nya, maka benar-benar kaum muslimin dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui hal ghaib, akan tetapi Allah-lah yang membukakan beberapa hal ghaib kepada beliau. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun kemudian memberitakan hal tersebut.

3. Jihad merupakan bagian dari syari’at Islam, dalam rangka menolong agama dan dakwah kepada Islam. Disyariatkan untuk berdakwah terlebih dahulu sebelum memulai jihad, apabila mereka kemudian pasrah dan masuk Islam, maka tujuan jihad telah tercapai. Namun apabila mereka enggan masuk Islam, diambillah jizyah. Apabila mereka masih juga enggan untuk membayar jizyah, maka kaum muslimin memohon pertolongan kepada Rabbnya dan memerangi mereka. Adapun jika dakwah Islam telah sampai namun mereka tidak konsisten menerimanya, bahkan mengumpulkan pasukan untuk memerangi kaum muslimin, maka mereka pun diperangi. Sebagaimana penyerbuan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas Bani Musthaliq.

4. Hadits ini menjelaskan keutamaan dakwah kepada Allah Ta’ala, yaitu bahwasanya menunjuki seseorang kepada Islam jauh lebih baik pahalanya daripada harta dan perbendaharaan dunia yang paling baik sekalipun, yang dalam hadits tersebut diungkapkan dengan unta merah. Hal ini dikarenakan kenikmatan dunia adalah fana, sedangkan apa yang ada di sisi Allah kekal dan tidak fana lagi habis.

5. Hidayah terbagi menjadi dua, yaitu hidayah mutsbitah, yaitu yang ditetapkan dan dapat diberikan oleh makhluq, dan hidayah manfiyyah, yang tidak bisa diberikan oleh makhluq.

Pertama, hidayah yang ditetapkan dapat diberikan oleh makhluq ialah hidayah irsyad wa ad-dalalah, bimbingan dan petunjuk. Penjelasan mengenai hal ini terdapat dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad, benar-benar dapat menunjuki mereka menuju jalan yang lurus”, yaitu dalam hal menunjuki dan membimbing mereka. Hal ini mengikuti teladan dari Rasul, para pewarisnya dari kalangan ulama, yang mereka senantiasa membimbing dan menjelaskan pada manusia hukum-hukum agama dan mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, hidayah taufiq dan ilham, inilah yang hanya dimiliki oleh Allah Ta’ala, tidak ada seorang makhluqpun yang memilikinya. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya engkau wahai Muhammad, tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki”.

6. Keutamaan dakwah ilallah amatlah banyak, tersebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, diantaranya :

a. Dakwah merupakan salah satu ciri yang hakiki bagi siapa saja yang mengaku mengikuti Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf : 108). Ibnul Qoyyim berkata, “Mengenai ayat, ‘Aku dan orang-orang yang mengikutiku berada di atas bashirah’, dijelaskan oleh para ulama bahwasanya “orang-orang yang mengikutiku” diathafkan (istilah nahwu yang bermakna menghubungkan dengan kata sambung “dan”, menunjukkan kesetaraan -pent) secara marfu’ dengan maksud, yaitu aku berdakwah mengajak kepada Allah di atas bashirah, begitu pula dengan orang-orang yang mengikutiku, mereka juga berdakwah mengajak kepada Allah di atas bashirah. Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya orang-orang yang mengikuti beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ialah para da’i yang menyeru kepada Allah di atas bashirah. Maka barangsiapa yang tidak termasuk diantara mereka, ia bukanlah pengikut Nabi secara hakiki, melainkan hanya sebatas penyandaran dan pengakuan belaka.”

b. Allah Ta’ala memuji para da’i yang menyeru kepada kebaikan, dengan istilah tidak ada perkataan yang paling baik dari perkataan mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat : 33)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya mengenai ayat tersebut, “Maka para da’i tersebut memberi manfaat kepada dirinya dan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukanlah termasuk golongan ini orang-orang yang menyeru kepada yang ma’ruf akan tetapi tidak mengerjakannya, atau mencegah dari yang munkar akan tetapi ia sendiri mengerjakannya. Akan tetapi mereka menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan, menyeru al khalqu (makhluq) kepada al khaaliqu (penciptanya) tabaraka wa ta’ala. Seruan ini umum mencakup siapa saja yang menyeru kepada kebaikan, dan memberikan petunjuk kepada orang lain.

Beliau rahimahullah kembali menjelaskan, “Berkata Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Al Hasan Al Bashri, bahwa beliau membaca ayat tersebut kemudian berkata, “Inilah kekasih Allah, inilah wali Allah, inilah manusia pilihan Allah, inilah penduduk bumi yang paling Allah cintai, Allah telah menerima dakwah mereka, dan mereka pun menyeru manusia kepada hal-hal yang Allah ridhai, dan mereka beramal shalih, dan berkata ‘Sesungguhnya kami hanyalah termasuk dari golongan orang-orang muslimin’, inilah khalifah Allah”

c. Orang-orang yang berdakwah kepada Allah, mereka adalah golongan yang memperoleh kemenangan dan keberuntungan di hari ketika manusia berkumpul dalam keadaan ada yang bahagia dan ada yang sedih. Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr :1-3).

Maka orang-orang yang beruntung ialah mereka yang beriman kepada Allah baik sebagai Rabb Pencipta alam semesta, maupun sebagai Ilah yang berhak diibadahi semata, dan beramal shalih yaitu amal yang dikerjakan ikhlas karena Allah semata, dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bersegera dalam menyempurnakan dan memperbaiki orang lain dengan menyeru manusia kepada al haq, yaitu setiap yang disyariatkan oleh Allah, kemudian bersabar di atas al haq tersebut, baik bersabar ketika mengerjakan ketaatan, bersabar dalam menjauhi keburukan, dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Kebalikan dari golongan yang beruntung adalah yang merugi, diantara mereka terdapat golongan yang merugi secara mutlaq, yaitu orang kafir, dan ada pula orang-orang yang tingkat kerugiannya berada di bawahnya yaitu orang-orang yang bertauhid namun bermaksiat. Mereka akan diadzab sesuai dengan kadar kemaksiatan yang mereka perbuat. Tidak ada khilaf dalam masalah ini selain golongan Khawarij, Mu’tazilah, dan Murji’ah. (mohon Ustadz tambahkan penjelasan tentang pandangan Khawarij, Mu’tazilah, dan Murji’ah dalam masalah ini)

d. Pahala dakwah ilallah akan memberi manfaat yang terus menerus, selama Allah berkehendak, dan tidak terputus dengan kematian sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, “Jika manusia mati terputuslah darinya amalnya kecuali tiga hal : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim). Maka ilmu yang disebarkan oleh seorang da’i dalam rangka menyeru kepada Allah, baik melalui majelis ta’lim, atau ketika bergaul dengan manusia, pahalanya akan senantiasa mengalir dan memberikan manfaat hingga hari kiamat kelak.

e. Allah Ta’ala menjadikan seluruh makhluq di langit dan bumi, semuanya memohonkan ampun bagi para da’i ilallah, sampai ikan-ikan di lautan sekalipun. Inilah ganjaran atas amalan mereka menyebarkan ilmu yang merupakan warisan para Nabi, sesuai dengan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi, hingga ikan-ikan di lautan turut memohonkan ampun bagi mereka”

f. Allah Ta’ala menetapkan pahala bagi para da’i ilallah, pahala yang besarnya semisal dengan mereka yang meneladani para da’i tersebut dalam kebaikan, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memelopori suatu kebaikan (yang telah ada contohnya dari Nabi -pent) dalam Islam, baginya pahala semisal dengan orang yang melakukannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang diperoleh orang yang melakukan tersebut”. Dalam hadits lainnya, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan baginya pahala yang semisal dengan orang yang melakukan kebaikan tersebut”.

Minggu, 10 Juli 2011

Tarbiyah

Tarbiya Bukanlah Segala Galanya
Tapi Segala Galanya Bisa Dengan Tarbiyah


Secara umum, tarbiyah dapat dikembalikan kepada 3 kata kerja yg berbeda, yakni:

1. Rabaa-yarbuu yg bermakna namaa-yanmuu, artinya berkembang.
2. Rabiya-yarbaa yg bermakna nasya-a, tara’ra-a, artinya tumbuh.
3. Rabba-yarubbu yg bermakna aslahahu, tawallaa amrahu, sasa-ahuu, wa qaama ‘alaihi, wa ra’aahu, yang artinya masing memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga dan memeliharanya (atau mendidik).

Makna tarbiyah adalah sebagai berikut:

1. proses pengembangan dan bimbingan, meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir si anak didik tumbuh dewasa dan hidup mandiri di tengah masyarakat.
2. kegiatan yg disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak, dan menyenangkan (tidak membosankan).
3. menyempurnakan fitrah kemanusiaan, memberi kesenangan dan kemuliaan tanpa batas sesuai syariat Allah SWT.
4. proses yg dilakukan dengan pengaturan yg bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yg mudah kepada yg sulit.
5. mendidik anak melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yg mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
6. kegiatan yg mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki terhadap anak.
7. Tarbiyah terdiri atas (1) Tarbiyah Khalqiyyat, yakni pembinaan dan pengembangan jasad, akal,

jiwa, potensi, perasaan dengan berbagai petunjuk, dan (2) tarbiyah diiniyyat tahdzibiyyat, pembinaan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa menurut pandangan Allah SWT.

Seribu Matahari Untuk Dunia

Tentang Dakwah
dakwah itu memberi bukan meminta

dakwah itu berbicara militansi bukan kemalasan

dakwah itu profesional bukan asal-asalan

dakwah itu mengenai ketaatan bukan suudzon yang mengacaukan barisan

di jalan dakwah ini orang berhimpun

dalam satu tujuan untuk mencurahkan mahabbah pada Rabbnya

bersatu dalam membela agama dan syariat-Nya

ya Allah masukkanlah aku dalam kalifah dakwahMu

karena Syurga Allah hanya bisa ditebus dengan perjuangan

bergeraklah, tulang-tulang perkasa!!!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More